|
HIDUP di negeri ini persis seperti melakukan perjalanan di dalam angkot (angkutan kota). Kita duduk di dalamnya, bersama dengan banyak orang (sesama warga kota ini), namun saling diam. Kita tak merasa saling mengenal dengan teman seperjalanan, pikiran kita ditawan oleh lamunan, dan emosi masing-masing. Sementara sopir angkot secara serampangan menjalankan mobilnya: berhenti seenaknya, menyalip ke kanan dan ke kiri, serta yang paling menyebalkan memaksakan jumlah penumpang melebihi kapasitas daya muat. Kita yang duduk di dalamnya hanya pasrah, sedikit menggerutu, namun tetap tak berdaya. Lutut kita saling sentuh dengan lutut orang lain, pundak dan badan juga bersentuhan, namun tetap saja kita saling diam. Saat bersamaan di masing-masing benak menjalar kecemasan, kegeraman, dan kekesalan yang sama. Angkot mendadak berhenti dengan injakan rem yang kasar, kita kaget dan sedikit menggerutu, namun tetap juga diam. Tak ada kekuatan untuk protes pada sopir, apalagi menuntut hak-hak konsumen.
Kita saling diam dan saling asing dengan sesama penumpang dalam perjalanan yang panjang. Kita hampir tak peduli apakah penumpang di samping kita, apakah ia sedang sakit perut, atau sedang memikirkan cara efektif mencuri atau membunuh diri. Saat itu, kita merasa terasing dan mengasingkan orang lain. Kita saling tidak memedulikan, yang penting kita bisa sampai ke tujuan dengan cepat. Tujuan begitu penting, sampai-sampai kita rela menempuh proses mencapai tujuan sebagai orang asing. Anehnya, kita terus-menerus mengulangi situasi itu, diam-diam kita merasa betah dalam situasi aneh itu. Ada apa dengan kita? Apakah kita sudah sedemikian "sakit orientasi" sampai-sampai kita sudah menikmati penderitaan? Bila berada di dalam angkot adalah miniatur cara kita berada di tengah masyarakat, maka perubahan kehidupan publik tak bisa diharapkan. Kita yang lebih mementingkan tujuan-tujuan pribadi, sambil tega mengesampingkan tujuan dan perasaan orang lain, tak bisa menjadi aktor di ruang publik. Hannah Arendt, filsuf perempuan Jerman, menyebut situasi seperti ini sebagai "the society of nobodies". Arendt mengatakan bahwa "the society of nobodies" lahir dari tatanan politik yang mengisolasi warga negaranya dari komunikasi satu sama lain dan menghalangi pertukaran pendapat. Kita rupanya pernah berada dalam situasi penuh ketakutan untuk mengemukakan pendapat, kita pernah diseragamkan, juga pernah ditekan untuk menerima filosofi: diam adalah emas. Setelah masa itu telah lewat, kita pernah berharap, namun situasinya sama saja: perubahan tak juga terjadi. Akhirnya, kita pun kembali memilih diam, saling mengasingkan diri satu sama lain dan mengeliminasi jarak. Situasi "the society of nobodies" tidak bisa melahirkan solidaritas dan tanpa solidaritas suatu masyarakat, hanyalah kerumunan orang-orang dengan tujuan berbeda-beda. Situasi the society of nobodies adalah masyarakat yang tidak sedang ke mana-mana, Erich Fromm dalam Revolution of Hope menggambarkan situasi ini sebagai "Kita tidak sedang berada di jalan yang menuju pembebasan, melainkan sedang lari meninggalkannya; kita tidak sedang menumbuhkan keindividuan melainkan menuju masyarakat yang semakin dimanipulasi; kita tidak sedang menuju ke tempat di mana peta-peta ideologis kita menegaskan bahwa kita sedang bergerak maju. Kita sedang berlari ke arah yang berbeda-beda. Beberapa orang memang tahu pasti arah yang dituju, di antara mereka ada yang senang, tetapi yang justru takut dengan arah itu". Menjalani kehidupan yang saling mengasingkan tentulah sangat menyebalkan, apalagi ketika bencana terus-menerus mendatangi kita. Jadilah kita persis seperti kehidupan orang-orang Kota Oran pada novel karya Albert Camus, Sampar (la Peste). Orang-orang di Kota Oran adalah orang-orang yang sibuk sendiri, berada dalam satu kota namun bertindak dengan tujuannya masing-masing. Saling tahu satu sama lain, namun tidak saling kenal. Baru ketika wabah sampar menelan korban dalam jumlah banyak dan kota itu ditutup, orang-orang Kota Oran secara terpaksa membangun solidaritas. Seperti orang-orang Kota Oran, saat ini kita dipenuhi oleh tokoh-tokoh seperti Cottard, Rambert, Peneloux, dan Dokter Bernard Rieux. Kota Oran adalah gambaran yang tepat untuk situasi Indonesia penen bencana, seperti saat ini. Mulanya kehidupan berjalan hambar, pemerintah tidak peduli dan menutup-nutupi keculasannya berhadapan dengan rakyat yang sibuk mencari nafkah sandang pangan. Tikus tiba-tiba mati di mana-mana, pemerintah masih acuh tak acuh. Baru ketika korban banyak berjatuhan, rakyat panik dan perekonomian terganggu, pemerintah mengumumkan gawat darurat. Mulanya setiap korban dimakamkan dengan ritus sewajarnya, kemudian untuk menghemat waktu --ketika jumlah yang meninggal menjadi banyak-- upacara penguburan dibuat bersama-sama dalam kuburan massal. Saat ini, kita pun berhadapan dengan banyak tokoh Peneloux, agamawan yang mencoba mengaitkan bencana dengan dosa. Bencana merupakan tanda-tanda ilahiah bahwa Tuhan menghukum para pendosa. "Sudah lama Tuhan menyerukan panggilanNya kepada kita; terlalu lama kita malas dan tidak taat kepadaNya. Kita pikir belas kasih-Nya masih akan memberi kita waktu. Tidak. Tuhan sudah lelah melihat tingkah kita. WajahNya berpaling dari kita. Dan lihatlah sekarang keadaan kita...begitu cahaya Ilahi menghilang, kita terbenam dalam kegelapam sampar" (hal. 109). Lalu orang-orang Kota Oran memenuhi tempat ibadah, bertaubat dan berjanji. Tetapi, bencana tetap saja datang, kemarahan Tuhan seperti menjadi-jadi. Saat itulah orang-orang jadi memiliki kepercayaan bahwa Tuhan adalah Maha Bencana, atau mereka mulai meragukan kekuasaan Ilahiah dalam menyelesaikan masalah. Lalu takhayul menjadi tren baru di Kota Oran. Berbagai macam ramalan dengan hitung-hitungan serba rumit menjadi tumpuan baru. Itu pun tidak menunjukkan bukti, korban tetap saja berjatuhan secara serampangan. Pada situasi seperti itu, Camus menampilkan tokoh dokter Rambert Rieux. Ia pun sebenarnya tidak bisa menghadapi penyakit itu, keahliannya tidak bisa memahami wabah. Namun Rieux tampil sebagai manusia yang tegar, "hanya orang gila atau pengecut yang mundur dan menyerah di depan sampar seperti ini" (hal. 141). Rieux menghadapi wabah itu dengan jujur bahwa ia tak bisa apa-apa namun bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Ia menolong sebisanya, walaupun ia tahu bahwa ikhtiarnya tidak berarti banyak. Seperti di dalam angkot, kita saling asing dan terarah pada tujuan masing-masing. Seperti di Kota Oran, kita kini menghadapi bencana yang seperti tak pernah berhenti. Apakah kita memilih untuk menyerah, berdoa, atau melakukan ikhtiar sebisa mungkin? Belajar dari kota Oran, sebelum korban tak tertampung kuburan, kita dapat mulai melakukan ikhtiar seperti dokter Rieux. Ia mencoba melawan wabah dengan terus berpikir sambil bertindak, ia pantang berputus asa selagi masih bisa melakukan apa-apa. Camus bilang "kebiasaan berputus asa jauh lebih buruk dari putus asa itu sendiri" (hal. 200). Berdoa atau bertobat model Peneloux, mungkin ada baiknya, namun terlalu menggantungkan semuanya pada Tuhan, membuat kita kehilangan kepercayaan padaNya. Bukankah Tuhan sudah memandatkan urusan dunia pada manusia, sedangkan manusia adalah khalifahNya karena itu kita sendirilah yang harus menghadapi bencana ini. Sebagai khalifah, kita diberi bekal pikiran -sesuatu yang tidak dimiliki oleh air, lahar, atau lumpur. "Dapatkah kegiatan berpikir sendiri, kebiasaan untuk memeriksa dengan seksama apa pun yang kebetulan terlintas atau menarik perhatian pikiran, tak peduli apa hasil dan isi khususnya, menjadi salah satu prasyarat yang membuat manusia menahan diri dari perbuatan jahat atau bahkan mengondisikan mereka untuk melawannya?", tanya Hannah Arendt. Berpikir berarti berjerih payah secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Sembari naik angkot, ada baiknya kita mulai menggunakan pikiran untuk saling menyapa, menggalang solidaritas demi perjalanan yang nyaman. Sembari naik angkot, kita bisa melibatkan diri pada masalah-masalah bersama, memahaminya, sembari mereguk pelajaran tentang bagaimana tetap menjadi manusia-beriman di tengah bencana. Siapa tahu, kita pun sampai pada kesimpulan dokter Rieux bahwa "Dalam diri manusia ada lebih banyak hal untuk dikagumi daripada untuk dicela. wallahu al.a'lam bissawwab. Penulis: Sekum PMII Cputat periode 2008-2009 dan sedang menyelesaikan skripsi
|