| Isra' Mi'raj dan Revolusi Kesadaran |
| Ditulis oleh Ervi Siti Zahrah | |||||||||||||
| Minggu, 26 Juli 2009 09:11 | |||||||||||||
|
بسم الله الرحمن الرحيم سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ Maha Agung Allah yg telah memperjalankan hamba-Nya di waktu malam dari Masjidil Haram [MEKKAH] ke Masjdil Aqsa [BAITUL MAQDIS-PALESTINA] Yg kami limpahkan berkah di sekitar perjalanan Itu, karena kami hendak mempertunjukkan kepadanya Ayat Ayat Kami. Sesungguhnya Allah Itu Maha Mendengar lagi Maha Memperhatikan. QS. Al Isra' :1. وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain (13) yaitu sidratul muntaha(14) didekatnya ada surga tempat tinggal (15) (Muhammad melihat Jibril) ketika sidratul muntaha diliputi oleh sesuatu yang diliputinya (16) Ayat diatas menjelaskan peristiwa ketika di Israkannya Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Masjidil Aqsa dan dimikrajkannya Nabi dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha di temani malaikat Jibril dan Buraq sebagai kendaraan yang ditungganginya saat itu, kecepatannya melebihi pesawat yang paling canggih dan cepat, dimana mata memandang maka sampailah ia pada tempat itu. Seperti itulah kecepatan Buraq yang Nabi Muhammad saw tunggangi. Buraq adalah seekor binatang berbulu putih dan tinggi, lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada kuda, suka menaruh kaki depannya di pinggir matanya, kedua telinganya selalu bergerak-gerak. Jika mendaki gunung kedua kaki belakangnya memanjang, sedangkan jika menuruni gunung kedua kaki depannya yang memanjang. Pada kedua belah pahanya terdapat dua sayap yang berpungsi untuk mempercepat larinya. Lalu kembalilah Nabi ke bumi dengan membawa buah tangan dari Allah swt untuk ummatnya yakni perintah shalat 5 waktu. Bermula pada suatu malam Nabi Muhammad sedang tidur dalam keadaan miring di Hijir Isma’il dekat dengan Ka’bah tiba-tiba datanglah malaikat Jibril. Dan malaikat Mikail disertai satu malaikat lain lalu membelah dada Nabi Muhammad saw sampai ke bawah perut. Dan Jibril bertindak sebagai pemimpin saat itu, kemudian Jibril meminta kepada malaikat Mikail untuk mengambil air Zam-zam kemudian malaikat Jibril mebersihkan dada nabi dan mengeluarkan hati nabi dan mencucinya 3 kali serta menghilangkan kotoran yang ada didalamnya. Mikail pun akhirnya mondar-mandir membawa 3 baskom air Zam-zam. Kemudian Jibril membawa baskom dari emas yang berisi dengan hikmah dan iman kemudian dituangkan kedalam dada Nabi maka, penuhlah dalam dada nabi itu dengan ilmu, sabar (hilm) keyakinan dan keIslaman. Setelah itu Jibril menutup kembali dada Nabi Muhammad saw kemudian Jibril memberi cap kenabian di antara pundak Nabi Muhammad saw. Peristiwa dibersihkan dada nabi ini adalah peristiwa yang kedua kalinya. Lalu nabi diberi seekor Buroq oleh Jibril Ketika melihat Nabi, Buraq berjingkrak-jingkrak. Jibril memegangnya lalu berkata: “Hai Buraq, apakah kamu tidak malu. Demi Allah, orang yang akan menaikimu adalah orang yang paling mulia bagi Allah!” Mendengar ucapan Jibril ini, Buraq pun malu dan bercucuranlah keringatnya. Setelah Buraq diam, Nabi pun menaikinya. Para nabi terdahulu pun pernah menaiki Buraq ini. Menurut Sa’id ibn al-Musayyab dan yang lainnya, Buraq ini adalah kendaraan Nabi Ibrahim yang biasa dipakai untuk pergi ke Bait al-Haram (Mekkah). Maka berangkatlah Buraq itu dengan didampingi oleh Jibril di sebelah kanan dan Mikail di sebelah kirinya. Sebab di 'operasinya' Nabi Muhammad yang kedua kali ini karena Nabi Muhammad akan menemui Allah secara langsung dan akan menerima perintah yang sangat mulia, sesorang yang hatinya terdapat dosa dan kotoran-kotoran hati. Maka hal ini akan menjadi penghalang untuk bertemu dengan yang Maha Suci, maka dari itu nabi di 'operasi' dan dibersihkan dadanya dan dipenuhi dengan ilmu, sabar (hilm) keyakinan dan keimanan karena nabi akan menerima perintah shalat sedangkan perintah ini tidak sedikit ummat nabi yang membangkang dan memungkirinya maka pada diri nabi dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi ummatnya dalam situasi ini dan banyak ummat yang belum tahu apa dan bagai mana shalat itu maka dalam diri nabi dibutuhkan ilmu untuk mengajari shalat kepada ummat nabi. Peristiwa di isra' dan di mikrajkannya nabi karena sebagai penghibur pada hati nabi karena saat itu nabi sedang mengalami kesedihan yang luar biasa atau disebut juga yaumul huzn, karena pada saat itu paman nabi Abu Thalib yang selalu mengasihi nabi dan menjaga nabi bahkan selalu memberi semangat untuk berdakwah akhirnya wafat dan meninggalkan nabi, serta istri tercintanya Siti Khadijah pun wafat. Padahal Siti khadijah adalah istri yang selama ini mendukung dan membantu baik moril maupun materiil nabi dalam berdakwah dan menyebarkan agama CINTA, Islam. Dan salah satu peristiwa yang terjadi pada saat di isra' dan di mikrajkannya Nabi Muhammad nabi dan malaikat dihadang oleh seorang wanita yang tubuhnya penuh dengan perhiasan sambil memanggil-manggil Nabi Muhammad saw. Namun, nabi tak menoleh sedikit pun kemudian nabi bertanya kepada malaikat Jibril siapakAh wanita itu wahai Jibril? Jibril menjawab ini adalah dunia, yang memperlihatkan keindahan dan kemewahan, jika engkau tadi menoleh dan memenuhi panggilan wanita itu maka ummatmu akan mendahului urusan dunia di banding dengan urusan akhirat. Kemudian nabi meneruskan perjalananya tak lama kemudian nabi dipanggil oleh seorang nenek dan berkata “ Muhammad!!! Menolehlah kepadaku, aku hendak bertanya” namun nabi tak menghiraukannya dan berkata kepada Jibril siapa itu wahai Jibril??? Kemudian Jibril berkata itu adalah setan dan itu adalah gambaran bahwa dunia saat ini adalah sesisa umur nenek-nenek tua itu. Kemudian ketika nabi sampai di Masjidil Aqsa diberikan mi’raj (tangga) yang sangat indah dan ini nantinya akan mengantarkan nabi ke Sidratul Muntaha dan bertemu dengan Allah SWT. Ketika Nabi Muhammad memasuki langit pertama dan bertemu penghuni-penghuni langit dan nabi-nabi beserta ummatnya sampai dengan langit ke tujuh nabi ditemani malaikat Jibril. Namun ketika sampai di Sidratul Muntaha, malaikat Jibril tidak ikut menemani nabi dan Jibril meninggalkan diri hanya sampai Sidratul Muntaha sedangkan nabi berjalan terus lalu Nabi naik ke Sidrat al-Muntaha dengan ditutupi awan yang berwarna-warni. Jibril tertinggal di belakang, sedangkan Nabi terus naik ke Mustawa. Di sini Nabi mendengar suara goresan pena. Beliau juga melihat seorang laki-laki yang diliputi cahaya `Arasy. Nabi bertanya: “Siapa ini? Apakah ia seorang raja?” Dijawab: “Bukan!” “Apakah ia Nabi?” tanya Nabi lagi. Di jawab: “Bukan!” Nabi bertanya lagi: “Siapakah dia?” Dijawab: “Ia adalah seorang laki-laki yang semasa hidupnya di dunia, lidahnya tak pernah kering dari zikir kepada Allah, hatinya tergantung pada masjid dan tak pernah melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan orang mencaci maki orang tuanya!” Di sinilah Nabi melihat Allah swt. Maka tersungkurlah Nabi bersujud. Pada saat itu Allah berkata kepadanya: “Wahai Muhammad!” “Labbaik [aku datang menyambut panggilan Engkau!], wahai Tuhanku!” Jawab Nabi. Allah berkata: “Mintalah!” Nabi menjawab: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Mu [khalil] dan memberinya kerajaan yang besar, Engkau telah berbicara dengan Nabi Musa, Engkau telah berikan Nabi Daud kerajaan yang besar, besi lunak di tangannya dan gunung-gunung tunduk kepadanya, Engkau telah berikan Nabi Sulaiman kerajaan yang besar, Engkau telah jadikan jin, manusia dan setan tunduk kepadanya, begitu pula angin tunduk kepadanya, dan telah Engkau berikan kepadanya kerajaan yang tak layak Engkau berikan kepada orang lain sesudahnya, Engaku telah ajarkan Nabi Isa kitab Taurat dan Injil, Engkau telah berikan ia kemampuan menyembuhkan penyakit buta dan belang serta menghidupkan kembali orang mati dengan izin Engkau, telah Engkau lindungi ia dan ibunya dari setan yang terkutuk sehingga tak ada jalan bagi setan untuk menggoda mereka!”. Maka Allah SWT berkata: “Sungguh, telah Kujadikan Engkau sebagai kekasih-Ku [habib]!” Periwayat berkata: “Di dalam kitab Taurat tertulis ia sebagai kekasih Allah!” [Selanjutnya Allah berfirman:] “Dan Kami telah mengutus Engkau kepada seluruh manusia dengan membawa berita suka dan duka, telah Aku lapangkan dadamu, telah Aku ampuni dosamu, telah Aku angkat sebutan namamu sehingga setiap kali nama-Ku disebut namamu juga disebut bersama nama-Ku, telah Aku jadikan umatmu sebagai umat terbaik yang dimunculkan untuk segenap manusia, telah Aku jadikan umatmu sebagai umat yang tengah-tengah, telah Aku jadikan umatmu sebagai umat yang pertama dan penghabisan, telah Aku tetapkan kepada umatmu agar dalam setiap khutbahnya memberi kesaksian bahwa Engkau adalah hamba dan utusan-Ku, telah Aku jadikan di antara umatmu itu suatu golongan yang hati mereka bagaikan kitab Injil, telah Aku jadikan Engkau sebagai nabi yang paling pertama diciptakan di antara para nabi dan yang paling terakhir diutus serta paling pertama diberi keputusan di hari kiamat nanti, telah Aku berikan kepadamu tujuh ayat yang selalu dibaca berulang-ulang yang belum pernah Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelum kamu, telah Aku berikan kepadamu akhir surah al-Baqarah yang berasal dari perbendaharaan di bawah `Arasy yang belum pernah Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelum kamu, telah Aku berika kepadamu sungai Kautsar, telah Aku berikan kepadamu delapan macam, yaitu Islam, Hijrah, Jihad, Shidq (berkata benar), Puasa Ramadhan, Amar Makruf, Nahi Munkar. Pada saat menciptakan langit dan bumi telah Aku wajibkan atasmu dan umatmu 50 kali salat, maka laksanakanlah olehmu dan umatmu!” Dalam satu riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah saw. diberikan perintah shalat 50 kali, akhir surah al-Baqarah, dan telah Aku ampuni umatmu yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun. Kemudian terbukalah kabut yang menutupi Nabi dan Nabi pun dibawa turun oleh Jibril dengan cepatnya sehingga berjumpa dengan Nabi Ibrahim. Di sini Nabi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Lalu Nabi berjumpa dengan Nabi Musa. Nabi berkata: “Sebaik-baik sahabat adalah kamu!” Musa bertanya: “Wahai Muhammad, apa yang telah Engkau lakukan di hadapan Tuhanmu, dan apa yang telah diwajibkan atasmu dan umatmu?” Nabi Muhammad menjawab: “Telah diwajibkan atasku dan umatku 50 kali shalat sehari semalam!” Musa berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan untukmu dan umatmu, sebab umatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sebab, Aku telah mencoba orang-orang sebelum kamu dari kalangan Bani Israil untuk mengerjakan yang lebih sedikit dari ini, tetapi mereka tidak sanggup dan mereka meninggalkannya. Sedangkan umatmu lebih lemah tubuh, hati, penglihatan dan pendengarannya!” Maka Nabi menoleh ke arah Jibril meminta persetujuan, dan Jibril pun membEri isyarat tanda setuju. Kata Jibril: “Kalau Engkau mau, kembalilah!” Maka dengan cepat Nabi kembali ke Sidrat al-Muntaha. Di sini Nabi ditutupi awan dan bersujud, lalu memohon: “Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku, karena mereka adalah umat yang paling lemah!” Allah berfirman: “Aku kurangi untuk umatmu 5!” Kemudian terbukalah awan yang menutupi Nabi dan Nabi pun kembali kepada Musa. Kepada Musa, Nabi berkata: “Allah memberi keringanan dengan mengurangi 5!” Musa berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan sanggup mengerjakannya!” Begitulah seterusnya, Nabi mondar-mandir antara Nabi Musa dan Tuhannya meminta keringanan dan mendapat pengurangan 5 sampai akhirnya Allah berfirman: “Wahai Muhammad!” “Aku datang menyambut panggilan Engkau, wahai Tuhanku!" Jawab Nabi. Firman Allah: “Inilah 5 kali salat sehari semalam. Setiap satu kali shalat sama dengan 10 kali salat, sehingga jumlahnya tetap 50. Perkataan-Ku tak dapat diganti dan apa yang telah Aku tuliskan tak dapat dihapus. Barang siapa mempunyai niat untuk berbuat kebaikan tetapi tidak jadi dilakukan, maka tetap ditulis satu kebaikan untuknya. Jika niat itu ia lakukan, maka ia akan mendapat 10 kebaikan. Sebaliknya, barang siapa mempunyai niat untuk berbuat kejahatan tetapi tidak jadi ia lakukan, maka tidak ditulis apa-apa baginya. Jika niat itu ia lakukan, maka hanya ditulis satu kejahatan saja!” Maka terbukalah awan yang menutupi Nabi, lalu Nabi turun berjumpa Nabi Musa dan menceritakan apa yang telah Allah firmankan kepadanya. Musa berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan sanggup megerjakannya!” Nabi menjawab: “Aku telah kembali kepada Tuhanku beberapa kali sampai Aku merasa malu. Aku telah rida dan menerimanya!” Maka tiba-tiba terdengarlah suara: “Telah Aku sampaikan suatu kewajiban dan telah Aku beri keringanan kepada hamba-hamba-Ku! Dari kisah singkat diatas apakah kita sebagai ummat Islam dan ummat Nabi Muhammad sebagai nabi yang rahmatalil’alamin mengingkari akan peristiwa besar ini??? Sedangkan nabilah nanti yang akan member syafa’at ‘udzma kepada ummat-ummatnya yang beriman di yaumul qiyamah. Namun tidak dipungkiri bahwasaya peristiwa ini banyak juga yang mengingkarinya dengan berbagai alasan. Padahal banyak sekali hadist yang menguatkan dan menceritakan peristiwa ini. Dan ingat bahwasanya nabi sebagai mana firman Allah: وماينطق عن الهوى- إن هو إلا وحي يوحى Artinya: (secara Umum) dan tidaklah yang diucapkan itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsu ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang di wahyukan kepadanya (an-Najm- 3-4). Maka sudah tidak sepatutnyalah kita mengingkari peristiwa Isra dan Mikraj nabi, karena semua ucapnnya diucapkan sesuai wahyu. Bagi yang tak mempercayai peristiwa ini maka telah lepas pada dirinya keimanan dan kesadarannya. Sebuah perjalanan ruhaniah dari Sang Nabi untuk revolusi kesadaran manusia di taman bumi. Penulis adalah Bendum PMII KomfakdishKoordinator LSO El-Kafi PMII Cabang Ciputat 2008-2009
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |

Penulis adalah Bendum PMII Komfakdish