| 4 Muadzin Legendaris |
| Ditulis oleh Yusni Amru Ghazali | |||||||||||||||||||||||||||
| Jumat, 27 Maret 2009 00:00 | |||||||||||||||||||||||||||
|
1. Bilal bin Rabah
Sahabat Bilal adalah orang pertama kali dalam Islam yang mengumandangkan adzan. Dan sepanjang hidupnya—setelah merdeka dari perbudakan—telah diabdikan untuk menjadi muadzin Rasulullah Saw, baik dalam perjalanan atau saat mukim. Beliau meninggal di Damaskus, Syiria, pada tahun 20 H pada usia kurang lebih enam puluh tujuh tahun. Nama asli beliau adalah 'Amr bin Qais bin Za`idah. Ibunya mendapat julukan Ummi Maktum yang mana nama aslinya adalah 'Atikah binti Abdullah bin 'Ankatsah. Bapaknya Ibnu Ummi Maktum adalah saudara kandung ibunya Khadijah binti Khuwailid—istri Rasulullah Saw—yakni Fatimah binti Za`idah. Ibnu Ummi Maktum mengalami kebutaan ketika beliau masih kecil. Beliau termasuk salah satu dari sahabat yang pertama melakukan hijrah, tepatnya setelah Mush'ab bin 'Umair. Pada beberapa kesempatan beliau merupakan tokoh yang menjadi penyebab turunnya suatu ayat dalam al-Qur`an. Seperti pada surah 'Abasa[80] ayat kedua disebutkan kata al-a'ma [seorang buta], yang mana tidak lain adalah Ibnu Ummi Maktum. Kisahnya, pada suatu saat ketika Rasulullah Saw berkumpul bersama para pemuka Quraisy datanglah Ibnu Ummi Maktum [belum masuk Islam] dan berkata kepada Rasulullah Saw, "Berilah aku petuah." Karena di samping Rasulullah Saw terdapat banyak pembesar suku Quraisy yang kafir, Rasulullah Saw enggan dan bermuka masam serta berpaling darinya. Merasakan gelagat kurang baik Ibnu Ummi Maktum berkata, "Apakah Anda melihat ada kekeliruan pada ucapanku?" Dan Rasulullah Saw menjawab, "Tidak." Maka kemudian turunlah teguran pada Rasulullah Saw berupa surah 'Abasa[80]. Tapi tidak seluruh surah merupakan teguran Allah Swt kepada Rasulullah Saw. Hanya sekitar enam belas ayat saja yakni dari ayat 1 sampai ayat 16. Bunyi ayat-ayat tersebut adalah: Semua hal di atas, menjelaskan kepada kita betapa Islam memuliakan orang-orang yang oleh sebagian masyarakat dipandang sebelah mata. Islam secara total ingin menampakkan dengan sungguh-sungguh, bahwasanya untuk menilai orang tidak dilihat dari fisik dan materinya, melainkan hati dan imannya. Semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah-kisah di atas, untuk kemudian tidak mendiskriminasikan seseorang hanya karena cacat fisik semata.[] Nama asli beliau adalah Aus bin Mi'yar. Julukannya lebih populer daripada namanya sendiri, begitu para ulama` sejarah mengatakan. Abu Mahdzurah al-Qarsyi al-Jahmi adalah muadzin Rasulullah Saw yang bertugas di Baitul Haram, Mekah. Selama hidupnya ia tidak pernah pergi dari Mekah, ia mukim di sana hingga akhir usianya dan tetap sebagai muadzin. Sahabat Abu Mahdzurah memiliki saudara lelaki yang bernama Anis bin Mi'yar yang mati pada perang Badar membela orang kafir. Abu Mahdzurah terkenal dengan suaranya yang bagus dan tinggi. Dan menurut kisah yang sahih dia masuk Islam karena telah diutus Rasulullah Saw untuk menjadi muadzin di Mekah. Adapun kisahnya adalah; pada suatu hari ketika Rasulullah Saw dan rombongannya kembali dari Hunain, mereka berhenti sebentar untuk mengerjakan shalat. Maka salah satu sahabat mengumandangkan adzan. Pada saat itu sepuluh pemuda kafir Mekah yang salah satunya adalah Aus bin Mi'yar [Abu Mahdzurah] bertemu dengan rombongan Rasulullah Saw tersebut. Dan mereka mengejek dan meniru-niru adzan yang dikumandangkan oleh sahabat. Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan sahabat agar anak-anak muda tersebut dibawa ke hadapannya. Kemudian Rasulullah Saw berkata, "Siapa di antara kalian yang baru saja suaranya terdengar lantang?" Semua temannya menunjuk ke arah Abu Mahdzurah. Kemudian Rasulullah Saw memanggilnya dan menyuruh dia berada di samping Rasulullah Saw untuk mengumandangkan adzan. Abu Mahdzurah mengakui, saat itu sekalipun ia belum Islam tapi tidak merasa benci pada Rasulullah Saw juga atas apa yang beliau suruh [yakni adzan]. Rasulullah Saw mengajarkan adzan pada Aus bin Mi'yar kalimat per kalimat dan ia mengikutinya. Setelah selesai mengajarkan adzan Rasulullah Saw memberinya sebungkus perak untuknya. Kemudian Rasulullah Saw memegang ubun-ubun Aus bin Mi'yar, kemudian turun hingga di antara dua dadanya, lalu di atas hatinya sampai ke pusarnya. Dan Rasulullah Saw sambil berkata, "Baarakalloohu fiika wa baarakalloohu 'alaika." Dan tiba-tiba Aus bin Mi'yar berkata, "Wahai Rasulullah Saw utuslah aku untuk menjadi muadzin di Mekah." Mendengar itu Rasulullah Saw menjawab, "Aku memang telah akan mengutusmu." Pada saat itu menurut pengakuan Aus bin Mi'yar semua kebenciannya pada Rasulullah Saw yang dahulu hinggap di hatinya berubah menjadi cinta. Kemudian ia menuju Mekah dan menjadi muadzin menemani 'Attab bin Asid. Menurut Abdullah Ibnu Mahiriz [keponakan Abu Mahdzurah] Abu Mahdzurah memiliki rambut depan yang panjang. Abu Mahdzurah membiarkan rambutnya tersebut dan tidak mau memotongnya, alasan dia tidak mau meotong adalah karena pernah disentuh dan didoakan Rasulullah Saw. Abu Mahdzurah meninggal pada tahun 57 H pendapat lain mengatakan 79 H. sepeninggal beliau generasi adzan di Mekah terus belanjut dari keluarganya, pengganti beliau adalah anaknya, kemudian anak dari pamannya yang bernama Ibnu Mahiriz, kemudian anaknya Ibnu Mahiriz, hingga anaknya Rabi'ah bin Sa'd bin Jamh.[] Nama asli beliau adalah Sa'd bin 'Aidz sedangkan al-Qarzh adalah nama sebuah tempat yang cukup bersejarah baginya. Pada suatu hari Sa'd bin 'Aidz datang kepada Rasulullah Saw dan mengadu akan kemiskinannya. Mendengar pengaduan tersebut Rasulullah Saw memberikan solusi baginya agar dia mau berdagang di pasar yakni dengan membeli barang di Qarzh dan menjualnya kembali. Dan ternyata benar, di situlah pintu rezeki Sa'd dibukakan, ia mendapatkan keuntungan dari hasil berdagangnya. Akhirnya, Rasulullah Saw menyarankan Sa'd agar menekuni dunia dagang tersebut untuk mengais rezeki. Kisah inilah yang kemudian mengangkat namanya menjadi Sa'd al-Qarzh. Beliau menjadi muadzin tetap di masjid Quba`, masjid pertama kali yang dibangun Rasulullah Saw sebelum masuk ke Madinah saat hijrah. Ketika Bilal sudah tidak lagi menjadi muadzin karena pindah ke Syam—tepatnya setelah Rasulullah Saw meninggal—Sa'd al-Qarzh dipindah tugaskan oleh Abu Bakar dari Quba` ke masjid Nabawi untuk menggantikan Bilal. Dan setelah itu, hingga akhir hayatnya Sa'd al-Qarzh menjadi muadzin tetap masjid Nabawi. Bahkan dari generasi ke generasi, muadzin tetap di masjid Nabawi adalah dari keluarga Sa'd al-Qarzh hingga masa pemerintahan Malik.[] *Penulis adalah alumni PMII Ciputat
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |

Beliau mendapat julukan [kinayah] Abu 'Abdul Karim, pendapat lain menyebutkan Abu Abdillah. Ibu beliau bernama Hamamah penduduk asli Mekah dari Bani Jamh. Bilal adalah budaknya sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau termasuk salah satu dari sahabat yang pertama memeluk Islam. Demi keyakinan yang dipeluknya ia mendapatkan berbagai macam siksaan pedih dari tuannya yang kafir. Dia pernah dipanggang berhari-hari bahkan berbulan-bulan di bawah terik matahari kota Mekah yang panas oleh Umayyah bin Khalaf. Ketika matahari telah terik dan panas, Umayyah bin Khalaf mengeluarkan sahabat Bilal ke padang pasir yang panas dan menindihnya dengan batu di atas dadanya sambil berkata, "Aku akan selalu perlakukan dia seperti itu hingga ia mati atau meninggalkan ajaran Muhammad. Sembahlah Latta dan Uzza." Tetapi sahabat Bilal tidak pernah menyerah, dia selalu memberikan jawaban yang mantap dan hati yang teguh, "Ahad, Ahad [Allah Maha Esa]" ketika tuannya berkata, "Tinggalkan Tuhannya Muhammad." Selain Umayyah bin Khalaf, Abu Jahl juga termasuk orang kafir yang dicatat telah menyiksa sahabat Bilal.