gototopgototop
Home » Islam & Keagamaan » 4 Muadzin Legendaris
 
4 Muadzin Legendaris
Ditulis oleh Yusni Amru Ghazali   
Jumat, 27 Maret 2009 00:00

 

1. Bilal bin Rabah

Bilal bin RabahBeliau mendapat julukan [kinayah] Abu 'Abdul Karim, pendapat lain menyebutkan Abu Abdillah. Ibu beliau bernama Hamamah penduduk asli Mekah dari Bani Jamh. Bilal adalah budaknya sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau termasuk salah satu dari sahabat yang pertama memeluk Islam. Demi keyakinan yang dipeluknya ia mendapatkan berbagai macam siksaan pedih dari tuannya yang kafir. Dia pernah dipanggang berhari-hari bahkan berbulan-bulan di bawah terik matahari kota Mekah yang panas oleh Umayyah bin Khalaf. Ketika matahari telah terik dan panas, Umayyah bin Khalaf mengeluarkan sahabat Bilal ke padang pasir yang panas dan menindihnya dengan batu di atas dadanya sambil berkata, "Aku akan selalu perlakukan dia seperti itu hingga ia mati atau meninggalkan ajaran Muhammad. Sembahlah Latta dan Uzza." Tetapi sahabat Bilal tidak pernah menyerah, dia selalu memberikan jawaban yang mantap dan hati yang teguh, "Ahad, Ahad [Allah Maha Esa]" ketika tuannya berkata, "Tinggalkan Tuhannya Muhammad." Selain Umayyah bin Khalaf, Abu Jahl juga termasuk orang kafir yang dicatat telah menyiksa sahabat Bilal.

 

Sahabat Bilal adalah orang pertama kali dalam Islam yang mengumandangkan adzan. Dan sepanjang hidupnya—setelah merdeka dari perbudakan—telah diabdikan untuk menjadi muadzin Rasulullah Saw, baik dalam perjalanan atau saat mukim. Beliau meninggal di Damaskus, Syiria, pada tahun 20 H pada usia kurang lebih enam puluh tujuh tahun.

2. Ibnu Ummi Maktum

Nama asli beliau adalah 'Amr bin Qais bin Za`idah. Ibunya mendapat julukan Ummi Maktum yang mana nama aslinya adalah 'Atikah binti Abdullah bin 'Ankatsah. Bapaknya Ibnu Ummi Maktum adalah saudara kandung ibunya Khadijah binti Khuwailid—istri Rasulullah Saw—yakni Fatimah binti Za`idah. Ibnu Ummi Maktum mengalami kebutaan ketika beliau masih kecil. Beliau termasuk salah satu dari sahabat yang pertama melakukan hijrah, tepatnya setelah Mush'ab bin 'Umair.

Pada beberapa kesempatan beliau merupakan tokoh yang menjadi penyebab turunnya suatu ayat dalam al-Qur`an. Seperti pada surah 'Abasa[80] ayat kedua disebutkan kata al-a'ma [seorang buta], yang mana tidak lain adalah Ibnu Ummi Maktum. Kisahnya, pada suatu saat ketika Rasulullah Saw berkumpul bersama para pemuka Quraisy datanglah Ibnu Ummi Maktum [belum masuk Islam] dan berkata kepada Rasulullah Saw, "Berilah aku petuah." Karena di samping Rasulullah Saw terdapat banyak pembesar suku Quraisy yang kafir, Rasulullah Saw enggan dan bermuka masam serta berpaling darinya. Merasakan gelagat kurang baik Ibnu Ummi Maktum berkata, "Apakah Anda melihat ada kekeliruan pada ucapanku?" Dan Rasulullah Saw menjawab, "Tidak." Maka kemudian turunlah teguran pada Rasulullah Saw berupa surah 'Abasa[80].

Tapi tidak seluruh surah merupakan teguran Allah Swt kepada Rasulullah Saw. Hanya sekitar enam belas ayat saja yakni dari ayat 1 sampai ayat 16. Bunyi ayat-ayat tersebut adalah:
“Dia [nabi Muhammad Saw] bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya [dari dosa]. Atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba kecukupan. Maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera untuk mendapatkan pengajaran. Sedang ia takut kepada Allah Swt. Maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka siapa yang menghendaki tentulah ia memperhatikannya. Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para malaikat. Yang mulia lagi berbakti.” (Q.S. 'Abasa[80]: 1-16)

Pada ayat lain dalam surah an-Nisaa`[4] ayat 95, Ibnu Ummi Maktum juga menjadi sebab turunnya kalimat dalam ayat. Bunyi ayat tersebut adalah:
Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk tidak ikut berjuang (yang tidak mempunyai udzur), dengan orang-orang yang berjuang di jalan Allah Swt dengan harta mereka dan jiwanya. Allah Swt melebihkan orang-orang yang berjuang dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk, satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah Swt menjanjikan pahala yang baik dan Allah Swt mengunggulkan antara orang-orang yang berjuang dengan orang yang berdiam diri, dengan pahala yang besar.” (Q.S. an-Nisaa`[4]: 95)

Kalimat yang ada di dalam kurung di atas adalah yang turun karena kedatangan dan pertanyaan Ibnu Ummi Maktum. Kisahnya, ketika turun ayat di atas, datanglah Ibnu Ummi Maktum dan bertanya, "Wahai Rasulullah Saw apa yang hendak engkau perintahkan kepadaku sedangkan aku adalah orang yang buta?" Maka kemudian turunlah kalimat ghoiru uulidhdhoror melengkapi ayat 95 surah an-Nisaa`. Jadi pada awalnya—sebelum kedatangan Ibnu Ummi Maktum dan muncul pertanyaan darinya—bunyi ayat tersebut adalah:
لاَ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ...
Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk [tidak ikut berjuang] dengan orang-orang yang berjuang di jalan Allah Swt...

Artinya, kata ghoiru uulidhdhoror atau yang berarti 'yang tidak mempunyai udzur' belum tercantum pada ayat tersebut. Ayat 95 dari surah an-Nisaa` di atas, pada awalnya adalah sindiran untuk semua mukmin tanpa kecuali, yakni yang tidak mau ikut berjuang dengan harta atau jiwanya di jalan Allah Swt. Namun pertanyaan Ibnu Ummi Maktum pada Rasulullah Saw melahirkan persepsi baru. Bahwa sindiran itu kemudian berubah, tidak kepada semua orang mukmin, tapi hanya kepada orang-orang mukmin yang sehat dan tanpa udzur dan tidak mau berjuang di jalan Allah Swt. Sedangkan mereka yang udzur seperti Ibnu Ummi Maktum tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang disindir al-Qur`an dengan istilah al-qa'iduna min al-mu`minin [orang-orang mukmin yang duduk santai tidak ikut berjuang di jalan Allah Swt].

Semua hal di atas, menjelaskan kepada kita betapa Islam memuliakan orang-orang yang oleh sebagian masyarakat dipandang sebelah mata. Islam secara total ingin menampakkan dengan sungguh-sungguh, bahwasanya untuk menilai orang tidak dilihat dari fisik dan materinya, melainkan hati dan imannya. Semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah-kisah di atas, untuk kemudian tidak mendiskriminasikan seseorang hanya karena cacat fisik semata.[]

3. Abu Mahdzurah

Nama asli beliau adalah Aus bin Mi'yar. Julukannya lebih populer daripada namanya sendiri, begitu para ulama` sejarah mengatakan. Abu Mahdzurah al-Qarsyi al-Jahmi adalah muadzin Rasulullah Saw yang bertugas di Baitul Haram, Mekah. Selama hidupnya ia tidak pernah pergi dari Mekah, ia mukim di sana hingga akhir usianya dan tetap sebagai muadzin. Sahabat Abu Mahdzurah memiliki saudara lelaki yang bernama Anis bin Mi'yar yang mati pada perang Badar membela orang kafir.

Abu Mahdzurah terkenal dengan suaranya yang bagus dan tinggi. Dan menurut kisah yang sahih dia masuk Islam karena telah diutus Rasulullah Saw untuk menjadi muadzin di Mekah. Adapun kisahnya adalah; pada suatu hari ketika Rasulullah Saw dan rombongannya kembali dari Hunain, mereka berhenti sebentar untuk mengerjakan shalat. Maka salah satu sahabat mengumandangkan adzan. Pada saat itu sepuluh pemuda kafir Mekah yang salah satunya adalah Aus bin Mi'yar [Abu Mahdzurah] bertemu dengan rombongan Rasulullah Saw tersebut. Dan mereka mengejek dan meniru-niru adzan yang dikumandangkan oleh sahabat. Kemudian Rasulullah Saw memerintahkan sahabat agar anak-anak muda tersebut dibawa ke hadapannya. Kemudian Rasulullah Saw berkata, "Siapa di antara kalian yang baru saja suaranya terdengar lantang?" Semua temannya menunjuk ke arah Abu Mahdzurah. Kemudian Rasulullah Saw memanggilnya dan menyuruh dia berada di samping Rasulullah Saw untuk mengumandangkan adzan. Abu Mahdzurah mengakui, saat itu sekalipun ia belum Islam tapi tidak merasa benci pada Rasulullah Saw juga atas apa yang beliau suruh [yakni adzan]. Rasulullah Saw mengajarkan adzan pada Aus bin Mi'yar kalimat per kalimat dan ia mengikutinya.

Setelah selesai mengajarkan adzan Rasulullah Saw memberinya sebungkus perak untuknya. Kemudian Rasulullah Saw memegang ubun-ubun Aus bin Mi'yar, kemudian turun hingga di antara dua dadanya, lalu di atas hatinya sampai ke pusarnya. Dan Rasulullah Saw sambil berkata, "Baarakalloohu fiika wa baarakalloohu 'alaika." Dan tiba-tiba Aus bin Mi'yar berkata, "Wahai Rasulullah Saw utuslah aku untuk menjadi muadzin di Mekah." Mendengar itu Rasulullah Saw menjawab, "Aku memang telah akan mengutusmu." Pada saat itu menurut pengakuan Aus bin Mi'yar semua kebenciannya pada Rasulullah Saw yang dahulu hinggap di hatinya berubah menjadi cinta. Kemudian ia menuju Mekah dan menjadi muadzin menemani 'Attab bin Asid. Menurut Abdullah Ibnu Mahiriz [keponakan Abu Mahdzurah] Abu Mahdzurah memiliki rambut depan yang panjang. Abu Mahdzurah membiarkan rambutnya tersebut dan tidak mau memotongnya, alasan dia tidak mau meotong adalah karena pernah disentuh dan didoakan Rasulullah Saw.

Abu Mahdzurah meninggal pada tahun 57 H pendapat lain mengatakan 79 H. sepeninggal beliau generasi adzan di Mekah terus belanjut dari keluarganya, pengganti beliau adalah anaknya, kemudian anak dari pamannya yang bernama Ibnu Mahiriz, kemudian anaknya Ibnu Mahiriz, hingga anaknya Rabi'ah bin Sa'd bin Jamh.[]

4. Sa'd al-Qarzh

Nama asli beliau adalah Sa'd bin 'Aidz sedangkan al-Qarzh adalah nama sebuah tempat yang cukup bersejarah baginya. Pada suatu hari Sa'd bin 'Aidz datang kepada Rasulullah Saw dan mengadu akan kemiskinannya. Mendengar pengaduan tersebut Rasulullah Saw memberikan solusi baginya agar dia mau berdagang di pasar yakni dengan membeli barang di Qarzh dan menjualnya kembali. Dan ternyata benar, di situlah pintu rezeki Sa'd dibukakan, ia mendapatkan keuntungan dari hasil berdagangnya. Akhirnya, Rasulullah Saw menyarankan Sa'd agar menekuni dunia dagang tersebut untuk mengais rezeki. Kisah inilah yang kemudian mengangkat namanya menjadi Sa'd al-Qarzh.

Beliau menjadi muadzin tetap di masjid Quba`, masjid pertama kali yang dibangun Rasulullah Saw sebelum masuk ke Madinah saat hijrah. Ketika Bilal sudah tidak lagi menjadi muadzin karena pindah ke Syam—tepatnya setelah Rasulullah Saw meninggal—Sa'd al-Qarzh dipindah tugaskan oleh Abu Bakar dari Quba` ke masjid Nabawi untuk menggantikan Bilal. Dan setelah itu, hingga akhir hayatnya Sa'd al-Qarzh menjadi muadzin tetap masjid Nabawi. Bahkan dari generasi ke generasi, muadzin tetap di masjid Nabawi adalah dari keluarga Sa'd al-Qarzh hingga masa pemerintahan Malik.[]

*Penulis adalah alumni PMII Ciputat

Comments
Add New Search
terimakasih
kang yusuf (125.166.26.xxx) 2009-12-26 17:45:55

terima kasih mas atas artikel nya sangat bernmanfaat.. amju terus PMII tangan
terkepal maju kemuka!!!
kang yusuf (125.166.26.xxx) 2009-12-26 17:46:14

terima kasih atas artiklenya
apik tenan
mas farid (125.167.90.xxx) 2010-04-14 15:44:13

mantap nian, tangan terkepal dan maju ke muka
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Home | Chat Room | Invite your friends | Twitter | Webmail | Mobile Version
__________________________
PMII Komfeis Blog Ahmad Makki UIN Jakarta Watch
http://everythingaboutcancers.blogspot.com/ http://cancer-ology.blogspot.com/ http://everythingcancers.blogspot.com/ http://studyofcancers.blogspot.com/ http://studyforcancer.blogspot.com/ http://studyforcancers.blogspot.com/ http://cancerallinone.blogspot.com/ http://answer-cancer.blogspot.com/ http://everything-cancer.blogspot.com/ http://everything-cancers.blogspot.com/
Copyright © 2008 PMII Cabang Ciputat, All Rights Reserved. Developed by Arthaloka